Saturday, May 31, 2014



Kekasih Beda Agama



Pelik dan klasik pacaran beda agama itu, tidak di restui keluarga sudah jelas...Tapi, hal itu yang justru anda hadapi saat ini. Beberapa orang menghibur, “ Kan perbedaan agama itu indah? Malah sekalian belajar toleransi.” Oke..tapi masalahnya demokrasi dan tpleransi itu membutuhkan kestabilan, termasuk kematangan mental anda. Pertanyaannya, sejauh mana kedewasaan anda untuk menerima perbedaan, apalagi untuk hal yang prinsipil seperti ini?
Coba bayangkan, ketika anda merayakan Lebaran –katakanlah anda seorang muslim-, pagi-pagi anda sudah menyiapkan diri untuk pergi Salad Id di masjid, seorang diri, karena suami tidak ikut. Di lain pihak, katakanlah suami merayakan Natal di gereja, anda juga hanya menunggu di rumah atau pergi kemana buat menyibukan diri.
Mungkin awalnya tidak masalahn namun ketika sudah mempunyai anak atau hal yang berlangsung bertahun-tahun, saya yakin ada semacam kekosongan kronis yang melanda. Itulah salah satu manifestasi puncak spiritual, kebahagiaan yang di rasakan ketika sekeluarga bersama-sama merayakan hari raya keagamaan dalam kekhusyukan yang hakiki. Belum lagi kalau anda menemui kesulitan dalam kehidupan.



Mungkin memang ada beberapa orang yang oke-oke saja saat menjalani kehidupan dalam berkeluarga yang berbeda agama. Tapi pertanyaan, berapa persentasenya?saya yakin tidak banyak, kecuali anda menganut paham sekuler murni bahwa agama adalah urusan pribadi dengan Yang di Atas. Atau, anda berdua adalah golongan yang tidak terlalu kuat dalam menjalankan keagamaan. Biasanya konflik yang muncul tidak begitu bearti.
Namun, akan menjadi masalah besar bila salah satu atau bahkan keduanya termasuk pemeluk agama yang taat. Perbedaan agama akan menjadi monster yang siap menghadang perjalan kisah cinta sepasang sejoli atau bahkan perjalan cinta yang sudah di ambang perkawinan, biasanya mereka takut dan ragu sama bayangan ke depan yang hendak mereka jalani hidup bersama. Ada lagi konsekuensi kegiatan ritual tertentu, kebiasaan-kebiasaan, larangan, apa yang diperbolehkan dan tidak. Bila masing-masing kuat memegang ajaran, maka akan muncul masalah atau konflik.
Ada baiknya anda memikirkan kembali perbedaan, atau sebaliknya anda menganut agama pasangan anda? Tentu anda sudah tahu resiko yang kan anda tanggung jika memilih pasangan yang berbeda keyakinan.. ingat, keputusan dan masa depan ada pada anda sendiri. (*)